materi pembelajaran sosiologi kelas x

INTERAKSI SOSIAL

Standard Kompetensi :

Mendeskripsikan  interaksi sosial sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat

 

  1. A.     Pengertian Interaksi Sosial

Kata Interaksi berasal dari kata ”inter”  yang  artinya ”antar” dan ”aksi” yang artinya tindakan.  Jadi, interaksi  dapat diartikan antar-tindakan.  Kata  sosial  berasal  dari  ”socious”  yang  artinya teman/kawan, yaitu hubungan antar-manusia.  Interaksi sosial  terjadi ketika ada seseorang atau kelompok orang melakukan suatu tindakan kemudian  dibalas  oleh  pihak  lain  (individu  atau  kelompok)  dengan  perilaku/atau  tindakan tertentu.

Proses berlangsungnya interaksi dapat digambarkan sebagai berikut,

1.  Ada dua orang atau lebih

2.  Terjadi kontak sosial (hubungan sosial)

3.  Terjadi komunikasi sosial (penyampaian pesan/informasi menggunakan simbol-simbol)

4.  Terjadi reaksi atas komunikasi

5.  Terjadi hubungan timbal-balik yang dinamik di antara individu dan/atau kelompok dalam masyarakat

Berdasarkan proses tersebut, dapat diketahui bahwa ada dua syarat utama terjadinya interaksi sosial,  yaitu kontak dan komunikasi  sosial. Kontak adalah  hubungan  yang  terjadi di  antara dua  individu/kelompok. Kontak dapat berupa kontak fisik, misalnya dua orang bersenggolan atau bersentuhan, dapat juga nonfisik, misalnya tatapan mata di antara dua orang yang saling bertemu.

Sedangkan  komunikasi  merupakan  proses  penyampaian  pesan  atau  informasi  dari  suatu pihak  (individu  atau  kelompok)  kepada  pihak  lain  (individu  atau  kelompok) menggunakan simbol-simbol.  Simbol  dalam  komunikasi  dapat  berupa  apa  saja  yang  oleh  penggunanya  diberi  makna tertentu,  bisa  berupa  kata-kata,  benda,  suara,  warna,  gerakan  anggota  badan/isyarat. Sebagaimana pengertian  simbol  yang dikemukakan oleh Ahli Antropologi Amerika Serikat bernama Leslie White, dalam The Evolution of Culture (1959) , bahwa simbol adalah sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh mereka yang mempergunakannya. Nilai dan makna tersebut tidak ditentukan oleh sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat dalam bentuk fisiknya. Proses  komunikasi  dinyatakan  berhasil  apabila  simbol-simbol  yang  digunakan  dipahami bersama oleh pihak-pihak yang terlibat, baik komunikator (pihak yang menyampaikan pesan) dan komunikan (pihak yang menerima pesan).

Kontak  dan  komunikasi  sebagai  syarat  utama  terjadinya  interaksi  sosial  dapat  berlangsung secara primer maupun sekunder. Sedangkan  kontak  atau  komunikasi  sekunder dibedakan menjadi dua macam,  yaitu  langsung  dan  tidak  langsung. Kontak/komunikasi  sekunder langsung terjadi melalui media komunikasi, seperti surat, e-mail, telepon, video call, chating, dan Kontak atau komunikasi primer adalah yang berlangsung secara tatap muka (face to face)semacamnya, sedangkan kontak/komunikasi sekunder tidak langsung terjadi melalui pihak ketiga.

B.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Interaksi sosial baik yang berlangsung antara individu  dengan  invidu,  individu  dengan kelompok,  atau  kelompok  dengan kelompok, dipengaruhi  oleh  faktor-faktor  imitasi, identifikasi, sugesti, dan simpati.

  • Imitasi merupakan tindakan meniru pihak lain, dalam hal tindakan dan penampilan, seperti cara berbicara, cara berjalan, cara berpakaian, dan  sebagainya. Seorang  individu melakukan  imitasi  sejak  di  lingkungan  keluarga,  teman  sepermainan,  ataupun  teman sesekolahan. Meskipun  demikian  imitasi  juga  dapat  berlangsung melalui media massa, misalnya televisi, radio, maupun internet.
  • Identifikasi juga merupakan proses meniru, tetapi berbeda dengan imitasi. Peniruan pada imitasi  tidak diikuti dengan pemberian makna  yang dalam  terhadap  hal-hal  yang ditiru, tetapi  pada  identifikasi  diikuti  dengan  pemberian  makna.  Apabila  seseorang mengidentifikasikan dirinya terhadap seseorang, maka dapat diartikan  individu tersebut sedang menjadikan dirinya seperti orang lain tersebut, baik dalam tindakan maupun nilai-nilai, ideologi atau pandangan hidup tokoh  yang  dijadikannya  sebagai rujukan/acuan/reference atau panutan.
  • Sugesti merupakan pengaruh yang diterima oleh seseorang secara emosional dari pihak lain, misalnya pengaruh dari tokoh yang kharismatik, orang pandai, seperti  dukun, paranormal, dokter, guru, tokoh yang menjadi idola, dan lain-lain.  Apabila  pengaruh tersebut diterima oleh seseorang berdasarkan pertimbangan rasional, maka  disebut motivasi.
  • Simpati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan diri dalam keadaan  pihak lain. Misalnya seseorang merasa simpati kepada sahabatnya yang sedang  mengalami musibah. Simpati juga dapat diartikan sebagai ketertarikan terhadap  pihak  lain  karena telah menampilkan  tindakan  atau  perilaku  yang  sungguh  berkenan di hati. Apabila ketertarikan atau dalam merasakan keadaan orang lain  tersebut diikuti dengan reaksi-reaksi fisiologis, misalnya meneteskan air mata, dapat disebut sebagai emphati.

C.  Nilai dan Norma Sebagai Dasar Interaksi Sosial 

a. Pengertian Nilai Sosial

Dalam  Kamus  Sosiologi  yang  disusun  oleh  Soerjono Soekanto  disebutkan  bahwa  nilai  (value)  adalah  konsepsi-konsepsi  abstrak  di  dalam  diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Prof. Notonegoro membedakan nilai menjadi  tiga macam, yaitu:  (1) Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia, (2) Nilai  vital,  yakni  meliputi  berbagai  konsepsi  yang  berkaitan  dengan  segala  sesuatu  yang berguna  bagi manusia  dalam melaksanakan  berbagai  aktivitas,  dan  (3)  Nilai  kerohanian, yakni meliputi  berbagai  konsepsi  yang  berkaitan  dengan  segala  sesuatu  yang  berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia: nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta),  nilai  keindahan,  yakni  yang  bersumber  pada  unsur  perasaan  (estetika),  nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa), dan nilai keagamaan (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.

  • Nilai individual – nilai sosial

Seorang  individu mungkin memiliki  nilai-nilai  yang  berbeda,  bahkan  bertentangan  dengan individu-individu  lain  dalam masyarakatnya. Nilai  yang  dianut  oleh  seorang  individu  dan berbeda  dengan  nilai  yang  dianut  oleh  sebagaian  besar  anggota masyarakat  dapat  disebut sebagai  nilai  individual.  Sedangkan  nilai-nilai  yang  dianut  oleh  sebagian  besar  anggota masyarakat disebut nilai sosial.

  • Beberapa definisi nilai sosial:
    • Kimbal Young memberikan definisi bahwa nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang pentinga,
    • Menurut A.W. Green, nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatif  berlangsung disertai emosi terhadap objek,
    • Woods memberikan definisi bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk  umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan  dalam kehidupan sehari-hari
    • Ciri-ciri nilai sosial:
      • Nilai  sosial  merupakan  konstruksi  abstrak  dalam  pikiran  orang  yang  tercipta melalui interaksi sosial,
      • Nilai sosial bukan bawaan lahir, melainkan dipelajari melalui proses sosialisasi, dijadikan milik diri melalui internalisasi dan akan mempengaruhi tindakan-tindakan penganutnya dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tanpa disadari lagi (enkulturasi),
      • Nilai sosial memberikan kepuasan kepada penganutnya,
      • Nilai sosial bersifat relative,
      • Nilai sosial berkaitan satu dengan yang lain membentuk sistem nilai,
      • Sistem nilai bervariasi antara satu kebudayaan dengan yang lain,
      • Setiap nilai memiliki efek yang berbeda terhadap perorangan atau kelompok,
      • Nilai sosial melibatkan unsur emosi dan kejiwaan, dan
      • Nilai sosial mempengaruhi perkembangan pribadi.
  • Fungsi nilai sosial.

Nilai Sosial dapat berfungsi:

  • Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan  dengan cita-cita atau harapan,
  • Sebagai petunjuk arah mengenai cara berfikir dan bertindak, panduan menentukan  pilihan, sarana untuk menimbang penghargaan sosial, pengumpulan orang dalam suatu unit sosial,
  • Sebagai benteng perlindungan atau menjaga stabilitas budaya.
  • Kerangka Nilai Sosial

Antara masyarakat  yang  satu  dengan  yang  lain  dimungkinkan memiliki  nilai  yang  sama  atau  pun berbeda. Cobalah ingat pepatah lama dalam Bahasa Indonesia:  “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain  ikannya”,  atau  pepatah  dalam  bahasa  Jawa:    “desa mawa  cara,  negara mawa  tata”.  Pepatah-pepatah  ini  menunjukkan  kepada  kita  tentang  adanya  perbedaan  nilai  di  antara  masyarakat  atau kelompok yang satu dengan yang lainnya. Mengetahui sistem nilai yang dianut oleh sekelompok orang atau suatu masyarakat  tidaklah mudah, karena  nilai  merupakan  konsep  asbtrak  yang  hidup  di  alam  pikiran  para  warga  masyarakat  atau kelompok. Namun lima kerangka nilai dari Cluckhohn yang di Indonesia banyak dipublikasikan oleh antropolog Koentjaraningrat berikut ini dapat dijadikan acuan untuk mengenali nilai macam apa yang dianut oleh suatu kelompok atau masyarakat.

Lima kerangka nilai yang dimaksud adalah:

Tanggapan mengenai hakekat hidup  (MH), variasinya: ada  individu, kelompok atau masyarakat yang memiliki pandangan bahwa “hidup itu baik” atau “hidup itu buruk”,

Tanggapan  mengenai  hakikat  karya  (MK),  variasinya:  ada  orang  yang  menganggap  karya  itu sebagai status, tetapi ada juga yang menganggap karya itu sebagai fungsi,

Tanggapan mengenai hakikat waktu(MW), variasinya: ada kelompok yang berorientasi ke masa lalu, sekarang atau masa depan,

Tanggapan mengenai  hakikat  alam  (MA), Variainya:   masyarakat  Industri memiliki pandangan bahwa manusia itu berada di atas alam, sedangkan masyarakat agraris memiliki pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam.  Dengan pandangannya terhadap alam tersebut, masyarakat industri memiliki pandangan bahwa manusia harus menguasai alam untuk kepentingan hidupnya, sedangkan masyarakat agraris berupaya untuk selalu menyerasikan kehidupannya dengan alam,

Tanggapan mengenai hakikat manusia (MM),   variasi:  masyarakat  tradisional    atau  feodal  memandang orang lain secara vertikal, sehingga dalam masyarakat tradisional terdapat perbedaan  harga  diri  (prestige)  yang  tajam  antara  para  pemimpin  (bangsawan)  dengan  rakyat  jelata.  Sedangkan  masyarakat  industrial  memandang    manusia    yang  satu  dengan  yang  lain  secara horizontal (sejajar).

b. Pengertian Norma sosial

Apabila nilai merupakan pandangan tentang baik-buruknya  sesuatu, maka  norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah  tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan  yang  wajar  dan  dapat  diterima  karena  sesuai  dengan harapan  sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan  tindakan yang menyimpang karena  tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Hubungan antara nilai dengan norma adalah, norma dibangun di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan  untuk  menjaga  dan  mempertahankan  nilai  sosial.  Pelanggaran  terhadap  norma  akan mendapatkan sanksi dari masyarakat.

  • Berbagai macam norma dalam masyarakat

Dilihat dari tingkat sanksi atau kekuatan mengikatnya terdapat:

a.  Tata  cara  atau  usage.  Tata  cara  (usage); merupakan  norma  dengan  sanksi  yang  sangat  ringat terhadap  pelanggarnya,  misalnya  aturan  memegang  garpu  atau  sendok  ketika  makan,  cara memegang gelas ketika minum. Pelanggaran atas norma ini hanya dinyatakan tidak sopan.

b.  Kebiasaan (folkways). Kebiasaan (folkways); merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang. Misalnya mengucapkan salam ketika  bertemu, membungkukkan  badan  sebagai  tanda  penghormatan  kepada  orang  yang  lebih tua, dst.

c.  Tata kelakuan  (mores). Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama atau ideology yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut  jahat. Contoh:  larangan berzina, berjudi, minum minuman keras, penggunaan napza, mencuri, dst.

d.  Adat (customs). Adat merupakan  norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikat, apabila adat  menjadi tertulis ia menjadi hukum adat.

e.  Hukum  (law). Hukum merupakan norma berupa aturan  tertulis, ketentuan sanksi  terhadap siapa saja  yang  melanggar  dirumuskan  secara  tegas.  Berbeda  dengan  norma-norma  yang  lain, pelaksanaan  norma hukum  didukung  oleh  adanya  aparat,  sehingga memungkinkan pelaksanaan yang tegas.

Mode atau fashion. 

Di samping lima macam norma yang telah disebutkan itu, dalam masyarakat masih terdapat satu jenis lagi yang mengatur tentang tindakan-tindakan yang berkaitan dengan estetika atau keindahan, seperti pakaian, musik, arsitektur rumah,  interior mobil, dan sebagainya. Norma  jenis  ini disebut mode atau fashion.  Fashion dapat berada pada tingkat usage, folkways, mores, custom, bahkan law.

D.  Bentuk Interaksi Sosial

Interaksi  sosial  sebagai  proses  sosial  utama  mempunyai  dua  bentuk  pokok,  yaitu  (1) menjauhkan, dan (2) mendekatkan (Mark L. Knap). Ahli sosiologi  lain, membedakan antara (1)  interaksi  asosiatif  dan  (2)  disosiatif.   Dua macam  pembedaan  ini  sebenarnya  tidaklah berbeda. Interaksi asosiatif merupakan bentuk interaksi sosial yang menguatkan ikatan sosial, jadi bersifat mendekatkan atau positif.  Interaksi disosiatif merupakan bentuk  interaksi yang merusak ikatan sosial, bersifat menjauhkan atau negatif.  Interaksi  sosial  asosiatif,  meliputi  berbagai  bentuk  kerjasama,  akomodasi,  dan  asimilasi. Interaksi  disosiatif meliputi  bentuk-bentuk  seperti  persaingan/kompetisi,  pertikaian/konflik, dan kontravensi.

  1. a.      Proses-proses asosiatif

Interaksi asosiatif bersifat menguatkan  ikatan sosial, cenderung kontinyu atau berkelanjutan. Karena (1) didasarkan pada kebutuhan yang nyata, (2)  memperhitungkan efektivitas, (3) memperhatikan efisiensi, (4) mendasarkan pada kaidah-kaidah atau nilai dan norma sosial yang berlaku, dan (5) tidak memaksa secara fisik dan mental.

1.  Kerjasama (koperasi)

Yang dimaksud kerjasama adalah dua atau lebih orang/kelompok melakukan  kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Kerja  sama  timbul ketika orang-orang menyadari adanya kepentingan  yang  sama pada  saat bersamaan,  dan mempunyai  pengertian  bahwa  kepentingan  yang  sama  tersebut  dapat  lebih mudah dicapai apabila dilakukan bersama-sama.

Motivasi bekerjasama

Kesadaran orang/kelompok untuk bekerjasama dapat berupa:

  • menghadapi tantangan bersama,
  • menghadapi pekerjaan yang memerlukan tenaga massal,
  • melaksanakan upacara keagamaan,
  • menghadapi musuh bersama,
  • memperoleh keuntungan ekonomi,
  • untuk menghindari  persaingan  bebas, menggalang  terjadinya  integrasi  sosial  (keutuhan masyarakat).

Bentuk-bentuk kerjasama

Kerjasama di antara individu atau kelompok dalammasyarakat dapat berupa:

  • bargaining (pertukaran “barang” atau “jasa” di antara dua individu/kelompok)
  • kooptasi (penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan untuk menghindari kegoncangan stabilitas kelompok), dan
  • koalisi (penggabungan dua kelompok atau lebih yang mempunyai tujuan sama).

2.  Akomodasi

Akomodasi dapat berarti proses atau keadaan. Sebagai proses, akomodasi merupakan upaya-upaya menghindarkan, meredakan atau mengakhiri konflik atau pertikaian, Sebagai keadaan, akomodasi  merupakan  keadaan  di  mana  hubungan-hubungan  di  antara  unsur-unsur  sosial dalam  keselarasan  dan  keseimbangan,  sehingga  warga  masyarakat  dapat  dengan  mudah menyesuaikan dirinya dengan harapan-harapan atau tujuan-tujuan masyarakat. Gillin  dan Gillin menyatakan  bahwa  akomodasi merupakan  istilah  yang  dipakai  oleh  para sosiolog  untuk  menggambarkan  keadaan  yang  sama  dengan  pengertian  adaptasi  yang digunakan  oleh  para  ahli  biologi  untuk menggambarkan  proses  penyesuaian mahluk  hidup dengan lingkungan alam di mana ia hidup.

Tujuan akomodasi:

  • Untuk  mengurangi  pertentangan  antara  orang-orang  atau  kelompok-kelompok  akibat perbedaan  faham. Dalam  hal  ini  akomodasi  diarahkan  untuk memperoleh  sintesa  baru dari faham-faham yang berbeda.
  • Untuk mencegah meledaknya pertentangan untuk sementara waktu
  • Untuk  memungkinkan  dilangsungkannya  kerjasama  di  antara  individu-individu  atau kelompok-kelompok yang karena faktor psikologi atau kebudayaan menjadi terpisah satu dari lainnya
  • Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah. Bentuk-bentuk akomodasi sebagai proses menghindarkan, meredakan atau mengakhiri konflik:
  • Kompromi (pihak yang bertikai saling mengurangi tuntutan)
  • Toleransi (saling menghargai, menghormati, membiarkan di antara pihak-pihak yang sebenarnya saling berbeda)
  • Konsiliasi (usaha yang bersifat kelembagaan untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai sehingga dicapai kesepakatan bersama)
  • Koersi (keadaan tanpa konflik karena terpaksa; akibat dari berbedanya secara tajam kedudukan atau kekuatan di antara fihak-fihak yang berbeda, misalnya antara buruh–majikan, orangtua-anak, pemimpin-pengikut, dan seterusnya)
  • Mediasi (penyelesaian konflik melalui pihak ketiga yang netral sebagai penasehat)
  • Arbitrasi (penyelesaian konflik melalui pihak ketiga yang berwenang untuk mengambil keputusan penyelesaian)
  • Stalemate (perang dingin, yakni keadaan seimbang tanpa konflik karena yang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang
  • Displacement (menghindari konflik dengan mengalihkan perhatian)
  • Ajudikasi (penyelesaian konflik melalui proses hukum/in court)

Secara umum dapat dinyatakan bahwa akomodasi merupakan upaya menyelesaikan konflik atau pertikaian di luar hukum.

3.  Asimilasi

Asimilasi  merupakan  proses  sosial  tingkat  lanjut  yang  ditandai  oleh  adanya  upaya-upaya mengurangi  perbedaan  serta  mempertinggi  kesatuan  tindakan,  sikap  dan  proses-proses mental  di  antara  orang-perorangan  atau  kelompok-kelompok  dengan  memperhatikan kepentingan atau tujuan bersama. Asimilasi akan terjadi apabila:

  • dua kelompok yang berbeda kebudayaan
  • individu/warga  kelompok  saling  bertemu  dan  bergaul  intensif  dalam waktu  yang  lama, sehingga
  • terjadi kontak kebudayaan (akulturasi) yang memungkinkan dua kelompok yang berbeda itu saling mengadopsi (meminjam) unsur-unsur kebudayaan cara hidup, dan kebudayaan dua kelompok itu saling menyesuaikan diri, sehingga masing-masing mengalami perubahan
  • kelompok-kelompok tersebut melebur membentuk kelompok baru dengan cara hidup dan kebudayaan baru yang berbeda dari kelompok asal

Interaksi sosial yang menghasilkan asimilasi adalah interaksi yang bersifat pendekatan, yaitu:

  • tidak mengalami hambatan dan pembatasan
  • interaksi berlangsung primer
  • interaksi berlangsung dengan frekuensi yang tinggi dan dalam keseimbangan

Hal-hal yang mempermudah asimilasi:

  • toleransi
  • kesempatan yang seimbang dalam proses ekonomi
  • sikap menghargai orang asing dengan segenap kebudayaannya
  • sikap terbuka dari golongan yang berkuasa (elite/the rulling class)
  • persamaan unsur-unsur kebudayaan
  • perkawinan campuran (amalgamasi)

Hal-hal yang menghambat asimilasi:

  • terisolirnya suatu kelompok
  • kurangnya pengetahuan terhadap kebudayaan lain
  • adanya prasangka terhadap kebudayaan lain (penilaian bahwa kebudayaan kelompoknya lebih tinggi derajatnya (ethnosentrisme))
  • Loyalitas yang berlebihan kepada kelompok bawaan lahirnya (primordialisme)
  • in group feeling yang kuat
  • perbedaan warna kulit dan ciri-ciri badaniah (ras)

Karena  asimilasi  berkaitan  dengan  proses  yang  mendahuluinya,  yakni  akulturasi,  maka berikut  dikemukakan  beberapa  hal  yang  berkait  dengan  proses  akulturasi  atau  kontak kebudayaan itu.

Unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima:

  • Unsur kebudayaan material dan teknologi
  • Unsur kebudayaan yang mudah disesuaikan
  •  Unsur  kebudayaan  yang  dampaknya  tidak  begitu mendalam, misalnya mode  (fashion) atau unsur kesenian

Unsur kebudayaan yang tidak mudah diterima:

  • Unsur-unsur  yang  berkaitan  dengan  nilai  yang mendasari  pola  berfikir  dan  cara  hidup, misalnya: agama, ideologi atau falsafah hidup
  • Unsur  kebudayaan  yang  telah  tersosialisasi  dan  terinternalisasikan  secara  luas  dan mendalam:  sistem  kekerabatan  (discent),  makanan  pokok,  kebiasaan  makan,  dan sebagainya.

Kelompok dalam masyarakat yang mudah menerima kebudayaan baru:

  • golongan muda yang identitas diri dan kepribadiannya belum mantap
  • kelompok masyarakat yang tidak mapan atau anti kemapanan
  • kelompok masyarakat yang berada dalam tekanan, misalnya kaum minoritas
  • golongan terdidik (kelas menengah/perkotaan)

b.   Proses-proses disosiatif, meliputi

1.  Persaingan (Kompetisi)

Persaingan  merupakan  suatu  proses  sosial  di  mana  orang-perorangan  atau  kelompok-kelompok saling memperebutkan sesuatu yang menjadi pusat perhatian dengan cara berusaha menarik  perhatian  atau mempertajam  prasangka,  tanpa  disertai  dengan  tindakan  kekerasan ataupun ancaman, melainkan dengan peningkatan mutu atau kualitas diri.

Persaingan mempunyai dua tipe umum, yaitu:

  • bersifat personal/pribadi atau perorangan (rivalry),
  • bersifat korporasi atau kelompok

Ruang lingkup persaingan dapat diberbagai bidang kehidupan: ekonomi (perdagangan), sosial (kesempatan pendidikan), budaya (kesenian, olahraga), politik (pemerintahan, partai politik) maupun keagamaan (antar kelompok agama, aliran, madzab, sekte, dst.)

2.  Konflik (Pertikaian)

Pertikaian  atau  konflik merupakan  proses  sosial  seperti  halnya  kompetisi  atau  persaingan, hanya  bedanya  pada  pertikaian  disertai  dengan  ancaman  dan/atau  tindak  kekerasaan,  baik fisik maupun nonfisik. Pertikaian dapat timbul karena:

  • perbedaan individual, berupa pendirian atau perasaan
  • perbedaan kebudayaan, berupa perbedaan sistem nilai atau norma
  • perbedaan kepentingan, berupa kepentingan ekonomi atau politik
  • perubahan  sosial  dan  budaya  yang  berlangsung  cepat  sehingga  para warga masyarakat kesulitan  menyesuaikan  diri  dengan  keadaan  baru,  misalnya  antara  kelompok  yang mempertahankan status quo dengan kelompok reformis (pembaru).  Seperti  halnya  persaingan,  pertikaian  pun  dapat  berlangsung  antara  perorangan  ataupun kelompok.

3.  Kontravensi

Kontravensi  merupakan  proses  sosial  yang  berada  di  antara  persaingan  dan  konflik. Kontravensi  merupakan  sikap  yang  tersembunyi  terhadap  pihak-pihak  lain  atau  terhadap unsur-unsur  kebudayaan  suatu  golongan.  Sikap  tersebut  dapat  berubah menjadi  kebencian, tetapi tidak sampai menimbulkan pertikaian.

Bentuk-bentuk kontravensi:

  • proses  umum:  perbuatan  menolak,  keengganan,  menganggu  proses  atau  mengacaukan rencana
  • sederhana:  menyangkal  pernyataan  di  depan  umum,  memaki,  mencerca,  memfitnah, menyebarakan selebaran atau melemparkan pembuktian kepada orang lain
  • intensif: menghasut, menyebarkan desas-desus
  • taktis: mengejutkan  lawan dengan perang urat syaraf (psy war), unjuk kekuatan (show of force), dan sebagainya.

˙˙ɹǝʇuıd ɥɐqɯɐʇ ɹɐıq ˙˙ןɐos uɐɥıʇɐן ɐʇıʞ oʎɐ

1. apa pengertian dan manfaat dari interaksi sosial?

2. apa perbedaan antara komunikasi sekunder dengan primer? berikan contohnya

3. jelaskan ketiga macam nilai menurut prof. Notonegoro dan berikan contoh konkrit yang ada di sekitar anda!

4. dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali terjadi konflik, mengapa demikian? bagaimana cara untuk meredam konflik yang terjadi?

5. bagaimana interaksi sosial dapat menciptakan nilai dan norma sosial?

DAFTAR PUSTAKA:

Mu’in. Idianto.2004. Sosiologi Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Laning, Vina dwi. 2007. Sosiologi untuk Kelas X SMA/MA. Klaten: Cepaka Putih.

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

˙˙ʇıɹıds dǝǝʞ˙˙nnnnnnןɐןǝs ɹɐɾɐןǝq ʇɐƃuɐɯǝs

Sepuluh Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia

1. Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini.

 

2. Stasiun Semarang Tawang (1868)
Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.

 

3. Stasiun Lempuyangan (1872)
Stasiun Lempuyangan (kode: LPN, +114 m dpl) adalah stasiun kereta api yang terletak di Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 1 km di sebelah timur dari stasiun utama di kota ini, yaitu Stasiun Yogyakarta. Stasiun yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1872 ini melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.

 

4. Stasiun Ambarawa (1873)
Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.

 

5. Stasiun Kedungjati (1873)
Stasiun Kedungjati (KEJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Kedungjati, Grobogan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada bulan 21 Mei 1873. Arsitektur stasiun ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur KA dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1976. Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati yang tadinya dibangun dari kayu diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.

 

6. Stasiun Solo Balapan (1873)
Stasiun Solo Balapan (kode: SLO, +93m) adalah stasiun induk di Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta yang menghubungkan Kota Bandung, Jakarta, Surabaya, serta Semarang. Stasiun ini didirikan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873)

 

7. Stasiun Purwosari (1875)
Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Purwosari, Lawiyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta.
Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh NISM. Stasiun Purwosari berada di wilayah Mangkunegaran.

 

8. Stasiun Surabaya Kota (1878)
Stasiun Surabaya Kota (SB) yang populer dengan nama Stasiun Semut terletak di Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Letaknya sebelah utara Stasiun Surabaya Gubeng dan juga merupakan stasiun tujuan terakhir di kota Surabaya dari jalur kereta api selatan pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dengan Yogyakarta dan Bandung serta Jakarta. Stasiun lain yang juga penting di Surabaya adalah Stasiun Pasar Turi yang menghubungkan Surabaya dengan Semarang. Baru dalam masa kemerdekaan, Jawatan Kereta Api mengadakan layanan kereta api antara Jakarta dan Surabaya Pasar Turi melalui Semarang.
Berdasarkan sejarahnya, Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jatim, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.

 

9. Stasiun Malang Kotalama (1879)
Stasiun Malang Kotalama (MLK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kecamatan Sukun, Malang. Stasiun yang berada pada ketinggian +429 m dpl ini berada di Daerah Operasi 8 Surabaya. Stasiun ini merupakan stasiun KA paling selatan yang berada di Kota Malang, dan tertua, dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama “Kotalama” dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun belakangan.
Dari Stasiun Malang Kotalama terdapat percabangan rel yang menuju ke Dipo Pertamina.

 

10. Stasiun Ijo (1880)
Stasiun Ijo (IJ) adalah stasiun kereta api yang terletak di sebelah barat Stasiun Gombong. Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Selain sebagai stasiun persilangan, fungsi lainnya adalah sebagai pengontrol terowongan jalur rel (disebut Terowongan Ijo) yang berada di sisi timur stasiun ini. Pengelolaan stasiun yang terletak pada ketinggian +25 m dpl ini berada di bawah Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun yang dibangun pada pertengahan tahun 1880-an ini jarang disinggahi oleh kereta api. Stasiun berperon sisi ini memiliki tiga jalur rel.

Pemanasan Global

10 Gejala Pemanasan Global

*Lapisan Es yang Kian Menipis

Ada yang bilang pemanasan global itu hanya khayalan parapecinta lingkungan. Ada yang bilang itu sudah takdir. Ilmuwan juga masih pro dan kontra soal itu. Yang pasti, fenomena alam itu bisa dirasakan dalam 10 kejadian berikut ini. Dan yang pasti ini bukan imajinasi belaka, sebab kita sudah mengalaminya.

* Kebakaran hutan besar-besaran

Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan meluluhlantakan lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah terbakar.

* Situs purbakala cepat rusak

Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.

* Ketinggian gunung berkurang

Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.

* Satelit bergerak lebih cepat

Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.

* Hanya yang Terkuat yang Bertahan

Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk manusia.

* Pelelehan Besar-besaran

Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gununges, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.

* Keganjilan di Daerah Kutub

Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub.Riset di sekitar sumber airyang hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.

* Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara

Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.

* Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi

Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebihtinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.

* Peningkatan Kasus Alergi

Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.livescience.com

 

Karl Marx

Karl Marx

A. Biografi Karl Mark
Karl Heinrich Marx adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan. Marx lahir di Trier, tepatnya di tepi sungai Rhine , Jerman, pada tanggal 5 Mei 1818, dan ia meninggal di London, 14 Maret 1883. Karl dikenal orang sebagai pemikir di berbagai ilmu pengetahuan mulai dari ekonomi hingga sosiologi.
Karl Marx adalah seseorang yang lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, walaupun begitu ayahnya cenderung menjadi deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Kuarga Marx adalah kaum borjuis. Namun ketika Karl dewasa. Ia menjadi penentang kaum borjuis nomer satu di dunia. Sedari muda Marx sudah merasa muak terhadap sikap ayahnya yang sangat tunduk kepada kekuasaan pemerintahan dan agama. Tetapi Karl Marx tetap memiliki ikatan intelektual yang kuat antara dia dan ayahnya. Meskipun saat itu juga Karl sudah menjadi penentang kaum borjuis yang radikal.
Marx sering dijuluki sebagai bapak komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini.
Marx Menikah pada tahun 1843 dan segera terpaksa meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfir yang lebih liberal di Paris. Disana ia terus menganut gagasan Hegel dan para pendukungnya, namun ia juga mendalami dua gagasan baru yaitu sosialisme Prancis dan ekonomi politik Inggris. Inilah cara uniknya mengawinkan Hegelianisme, sosialisme, dengan ekonomi politik yang membangun orientasi intelektualitasnya. Yang sama pentingnya adalah bertemunya dengan orang yang menjadi sahabat sepanjang hayatnya, penopang finansialnya, dan kolaboratornya yaitu friedrich engels. Anak seorang pemilik pabrik textil, engels menjadi seorang sosialis yang bersikap kritis terhadap kondisi yang dihadapi kelas pekerja.
Banyak kesaksian marx atas nestapa kelas pekerja berasal dari paparan engels dan gagasan-gagasannya. Pada tahun1444 engels dan marx berbincang lama di salah satu cafe terkenal di Paris dan ini mendasari pertalian seumur hidup keduanya. Dalam percakapan itu engels mengatakan, “persetujuan penuh kita atas arena teoritis telah menjadi gamblang dan kerjasama kita berawal dari sini”. Tahun berikutnya engels mempublikasikannya 1 karya penting, the condition of the working class in england. Selama masa itu marx menulis sejumlah karya rumit (banyak diantaranya tidak dipublikasikan sepanjang hayatnya), termasuk The Holly Familly dan the Germany Ideology (keduanya ditulis bersama dengan engels), namun ia pun menulis The Economic And Philosophic Manuscripts of 1844, yang memayungi perhatiannya yang semakin meningkat terhadap ranah ekonomi.
Kendati Marx dan Engels memiliki persamaan orientasi teoritis, ada banyak perbedaan antara kedua orang iini. Marx cenderung lebih teoritis, intelektual acak-acakan, dan sangat berorientasi pada keluarga. Engels adalah pemikir praktis, seorang pengusaha yang rapih dan cermat, dan orang yang tidak percaya pada institusi keluarga. Ditengah-tengah perbedaan tersebut, marx dan engels membangun persekutuan kuat tempat merekam berkolaborasi menulis sejumlah buku dan artikel serta dan bekerjasama dalam organisasi radikal, dan bahkan engels menopang marx sepanjang hidup nya sehingga marx dapat mengabdikan diri untuk petualangan politik dan intelektualnya. Kendati mereka berassosiasi begitu kuat dengan nama marx dan engels, engels menjelaskan bahwa dirinya patner junior marx. Sebenarnya banyak orang percaya bahwa engels sering gagal memahami kejelian karya marx.
Setelah kematian marx, engels menjadi juru bicara terkemuka bagi teori marxian dan berbagai cara mendistorsi dan terlalu menyederhanakan teorinya, meskipun dia tetap setia pada perspektif politik yang ia telah bangun bersama marx.
Marx juga bergabung dengan liga komunis yang ternama, ia diminta menulis suatu dokumen (dengan engels) yang memaparkan tujuan dan kepercayaannya. Hasilnya adalah Communist Mannifesto yang terbit pada tahun 1848, satu karya yang ditandai oleh kumandang slogan politik (misalnya, “pekerja diseluruh dunia, bersatulah!”).
B. Teori-Teori Karl Marx
a. Teori Kelas
Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa : “ sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan “. Analisa Marx selalu mengemukakan bagaimana hubungan antar manusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing – masing terhadap sarana – asarana produksi , yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber – sumber daya yang langka . Ia mencatat bahwa perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi penyebab pertikaian antar golongan. Marx memiliki anggapan yang begitu kuat bahwa posisi di dalam struktur sedemikian ini selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka
• Hubungan Ekonomi Dan Struktur Kelas
Kemampuan manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhannya tergantung pada terlibatnya mereka dalam hubungan hubungan social dengan orang lain untuk mengubah lingkungan materil melalui kegiatan produktifnya. Hubungan-hubungan sosial yang elementer ini membentuk infrastruktur ekonomi masyarakat
Pemilikan atau kontrol yang berbeda atas alat produksi, yang ditekankan oleh Marx jauh lebih keras daripada perbedaan biologis, merupakan dasar pokok untuk pembentukan kelas-kelas sosial yang berbeda. Pemilikan atau kontrol atas alat produksi merupakan dasar utama kelas-kelas sosial dalam semua tipe-tipe masyarakat, dari masyarakat yang dibedakan menurut kelas yang paling awal yang muncul dari komunisme suku bangsa primitive sampai kekapitalisme modern.
• Kepentingan Kelas Objektif Dan Kesadaran Kelas Subjektif
Yang berhubungan dengan pembedaan antara dimensi kelas subyektif dan obyektif adalah perbedaan antara kepentingan kelas. Kesadaran kelas merupakan kesadaran subyektif akan kepentingan kelas yang obyektif yang mereka miliki bersama orang-orang lain dalam posisi serupa dalam sistem produksi.
• Munculnya Kesadaran Kelas Dan Perjuangan Kelas
Satu faktor penting adalah semakin terpusatnya kaum buruh proletar dalam aderah-daerah industry dikota. Karena mereka bekerja bersama-sama dalam kondisi yang kurang manusiawi dalam pabrik dan hidup berdampingan satu sama lain sebagai tetangga dikota, kaum proletar semakin sadar akan penderitaan bersama dan kemelaratan ekonominya. Terpusatnya mereka pada satu tempat memungkinkan terbentuknya jaringan komunikasi da menghasilkan kesadaran bersama.
b. Filsafat Dialektika
Dialektika berarti sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya. Dan hubungan ini berupa negasi. Hanya melalui negasi kita maju, kita bisa mencapai keutuhan dan dapat menemukan diri sendiri.
Ironi dialektik dapat dilihat dalam kenyataan bahwa di masa awal perubahan borjuis, proletariat yang sedang muncul membantu kelompok borjuis melawan aristokrasi. Dengan menggerakan kaum proletar sebagai satu kekuatan politik, kaum borjuis tanpa disadari mempersiapkan kubur untuk kehancurannya sendiri. Keberhasilan suatu kelas yang tertindas dalam menggerakan aksi politik revolusioner untuk meningkatkan kepentingannya, bergantung pada perkembangan kekuatan-kekuatan produksi materil yang sesuai.
c. Determinisme Ekonomi
Di sejumlah tempat dalam karyanya Marx berbicara seolah-olah seperti seorang determinisme ekonomi, ia menganggap sistem ekonomilah yang terpenting dan menegaskan sistem ekonomi menentukan semua sektor masyarakat lainnya. Meski melihat sektor ekonomi sangat menentukan setidaknya dalam masyarakat kapitalis, namun selaku orang yang berfilsafat dialektis, ia tidak akan berpendirian determinis kerena dialektika di tandai oleh pemikiran mengenai adanya umpan balik dari interaksi timbal balik secara terus menerus antara berbagai sektor masyarakat.
d. Teori Humanisme Marx
Manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia. Agama adalah perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa manusia justru belum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari diri sendiri. Menurut marx agama hanyalah tanda keterasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. Agama adalah realisasi hakikat manusia dalam angan-angan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh.
e. Teori Alienasi
Menurut Marx, sejarah manusia mempunyai aspek ganda, yaitu sejarah tentang berkuasanya manusia atas alam dan sekaligus juga merupakan sejarah dari bertambahnya alienasi atas diri manusia. Alienasi dapat diartikan sebuah keadaan dimana manusia dikuasai oleh kekuatan – kekuatan yang tercipta dari kreasinya sendiri dan kekuatan tersebut melawan manusia itu sendiri. Marx sendiri mengemukakan bahwa manusia yang teralienasi adalah merupakan manusia yang sebenarnya hidup di dalam suatu dunianya yang tidak terhayati oleh dirinya sendiri.
C. Kritik Terhadap Karl Marx
a. Marxisme memanglah banyak memberi warna dalam sosiologi namun dalam perkembangannya tergantikan dengan Neo Marxian dengan pendekatan konfliknya.
b. Pandangan Marx dinilai terlalu berat sebelah karena adanya tekanan-tekanan hanya dalam faktor ekonomi.
c. Pendapatnya yang kukuh dalam determinasi ekonomi tidak dapat diterima sepenuhnya dikarenakan pendapat Sorokin tentang banyaknya faktor lain yang bekerja sebelum faktor ekonomis manusia.
d. Dalam penelitian max weber selanjutnya yang menyangkal pendapat marx membuktikan bahwa pertumbuhan kapitalis modern itu sesungguhnya bermula dari faktor-faktor yang bersifat religius yang merupakan syarat dari kondisi-kondisi ekonomis

misteri di balik bencana merapi

Misteri di balik ledakan merapi

Indonesia adalah sebuah negara yang sebagian besar warganya masih mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib. Oleh Auguste Comte kepercayaan terhadap adanya kekuatan adikodrati disebut tahap pemikiran theologies. Meskipun ilmu pengetahuan di Indonesia sudah cukup berkembang, namun tetap saja kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ghaib tidak dapat dihapuskan. Seperti halnya banyak bencana alam yang terjadi dikaitkan dengan misteri-misteri tertentu, yang tentunya menyita banyak perhatian orang.
Contoh saja pada saat gunung Merapi meletus, ada beberapa kepercayaan mistis yang muncul. Dan cukup menghebohkan masyarakat Yogyakarta. Seperti saja adanya kepercayaan bahwa pada hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010, YM Sultan Adji Sulaiman Raja Kutai Kertanegara ke 18 memerintah pada pertengahan abad 18, mengingatkan warga supaya segera melaksanakan perintah untuk ritual labuh ke puncak Gunung Merapi. Pada tanggal 13 Oktober 2010 saat itu status Gunung Merapi sudah berada pada status siaga (satu tingkat di atas status waspada, satu tingkat di bawah status tertinggi awas). Walaupun begitu namun masyarakat yang tinggal di lereng merapi nekat untuk naik ke gunung tersebut, karena sudah merupakan perintah dari para leluhur mereka, mereka percaya tidak ada perintah leluhur yang membuat celaka diri mereka. Mereka juga percaya gaib pun tak pernah bohong.
Masyarakat Yogyakarta beranggapan jikalau ritual labuh (labuhan) atau larung sesaji bukan sekedar latah ikut-ikutan saja. Larung sesaji yang melibatkan ubo rampe dan tata cara hanya soal teknis saja. Lebih dari itu orang harus memahami hakekatnya. Yakni sebagai upaya manusia memahami dan menghormati alam semesta beserta seluruh makhluk penghuninya sebagai sesama ciptaan tuhan. Acara labuh sebagai salah satu wujud adanya kesadaran bersama, yakni tanggungjawab manusia tanpa kecuali untuk selalu hamemayu hayuning bawana. Menjaga dan melestarikan alam semesta serta mengambil manfaat secara proporsional tanpa meninggalkan kerusakan. Kesadaran itu menjadikan kita sebagai sosok manusia yang bijaksana. Berkesadaran spiritual tinggi yang selalu selaras, sinergis dan harmonis dengan kodrat (hukum) alam semesta..

Desa mawa cara, negara mawa tata. Setiap wilayah, atau lingkungan alam, memiliki tata dan cara masing-masing. Beda masyarakat, berbeda pula adat istiadat, tradisi, dan budayanya. Itulah makna kearifan lokal, yakni nilai luhur hasil interaksi manusia dengan lingkungan alamnya yang kemudian melahirkan kearifan dan kebijaksanaan. Sehingga di dalam nilai kearifan lokal (local wisdom) terkandung kesadaran akan jati diri suatu bangsa. “Jati diri” yang meliputi karakter geografi, geologi, dan karakter sosialnya. Bagi siapa yang lebih memahami “jati diri” tersebut, seseorang dapat bersikap lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Alias menjadi manusia yang tunduk patuh, manembah kepada tuhan.

Politik di Yogyakarta Memanas

Sejarah Keistimewaan Jogja
Keistimewaan Yogyakarta “digugat” pada Jumat 26 November 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka rapat kabinet terbatas di kantornya. Pernyataan ini yang mungkin menuai kontroversi: “Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi mau pun nilai-nilai demokrasi.” Sebenarnya, kenapa Yogyakarta punya keistimewaan? Bagaimana sejarahnya?
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunegaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945. Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang.
Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi:
1. Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
2. Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
3. Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
4. Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
5. Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedangkan kekuasaan Kadipaten Pakualaman meliputi:
1. Kabupaten Kota Pakualaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
2. Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.
Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Haamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945 yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.
Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta (lihat Maklumat Yogyakarta Nomor 18 Tahun 1946). Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.
“(1) Daerah yang meliputi daerah Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman ditetapkan menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. (2) Daerah Istimewa Yogyakarta adalah setingkat dengan Provinsi.”(Pasal 1 UU No 3 Tahun 1950) Pasal 18 UUD 1945. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II ) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I.
Pemerintah Hindia Belanda saat itu mengakui Kasultanan maupun Pakualaman, sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577.
Dengan dasar pasal 18 Undang-undang 1945, DPRD DIY menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerahnya yang sepatutnya dihormati.
Pasal 18 undang-undang dasar 1945 itu menyatakan bahwa “pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat Istimewa”.
Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, DIY dibentuk dengan Undang-undang No.3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah/Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman.
sumber: blog-sejarah.blogspot.com
Polemik Keistimewaan Yogyakarta
Pro dan kontra dari kalangan warga Yogyakarta maupun dari kalangan pemerintah mengenai Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) Yogyakarta memuncak pada suatu pilihan yaitu Gubernur dipilih langsung oleh rakyat atau ditetapkan. Perbedaan pendapat antar kalangan semakin memanas saat wacana referendum muncul di berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sri Sultan meminta keputusan penentuan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih secara langsung harus disepakati melalui referendum. Pemerintah dan DPR tidak bisa menentukan itu sendiri.
Pada Jumat 26 November lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka rapat kabinet terbatas di kantornya mengatakan tidak pernah melupakan sejarah dan keistimewaan DIY. Keistimewaan DIY itu sendiri berkaitan dengan sejarah dari aspek-aspek lain yang harus diperlakukan secara khusus sebagaimana pula yang diatur dalam Undang-undang Dasar. Maka itu harus diperhatikan aspek Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi. Namun pernyataan ini yang mungkin menuai kontroversi. “Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi mau pun nilai-nilai demokrasi,” kata SBY.
Sejak sebelum Indonesia merdeka, baru kali ini Keistimewaan Yogyakarta dipertanyakan. Status sebagai Daerah Istimewa itu merujuk pada runutan sejarah berdirinya propinsi ini, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai tradisi pemerintahan karena Yogyakarta adalah Kasultanan, termasuk di dalamnya juga terdapat Kadipaten Pakualaman. Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di zaman penjajahan Hindia Belanda disebut Zelfbesturende Landschappen. Di zaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I.
Pemerintah Hindia Belanda saat itu mengakui Kasultanan maupun Pakualaman, sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577.
Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden RI, bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Pegangan hukumnya adalah:
1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI
2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Amanat Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (yang dibuat sendiri-sendiri secara terpisah)
3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 (yang dibuat bersama dalam satu naskah).
Dengan dasar pasal 18 Undang-undang 1945, DPRD DIY menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerahnya yang sepatutnya dihormati. Pasal 18 undang-undang dasar 1945 itu menyatakan bahwa “pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat Istimewa”.
Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, DIY dibentuk dengan Undang-undang No.3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah/Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman.
Jakarta (ANTARA News) – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar, mengatakan bahwa Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Keistimewaan Yogyakarta sudah selesai harmonisasi di tataran pemerintah, dan sedang menunggu surat pengantar dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
“Draft RUU Keistimewaan Yogyakarta saat ini sudah berada di Sekretariat Negara, menunggu surat pengantar dari Presiden untuk disampaikan ke DPR RI,” kata Patrialis Akbar di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa.
Menurut Patrialis, dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta itu isinya banyak mengatur hal-hal yang terkait dengan Yogyakarta sebagai daerah istimewa.
Beberapa keistimewaan Yogyakarta yang diatur dalam RUU tersebut, menurut dia, antara lain mengatur soal jabatan Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam.
Dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta, kata dia, pemerintah mengusulkan suksesi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui meknisme pemilihan, bukan penetapan.
Dalam mekanisme pemilihan gubernur itu, katanya, setiap orang yang akan mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur harus mendapat persetujuan dari Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam.
“Sultan dan Paku Alam meskipun tidak menjadi gubernur tetap menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Patrialis.
Meskipun nantinya terpilih orang lain sebagai gubernur di DIY, menurut dia, tapi gubernur tetap harus meminta persetujuan dari Sultan dan Paku Alam untuk memutuskan suatu kebijakan.
DPRD Provinsi Yogyakarta yang membuat peraturan daerah atau penyusunan anggaran daerah, kata dia, juga harus mendapat persetujuan dari Sultan dan Paku Alam.
Posisi penting dalam penyusunan anggaran ini, kata Patrialis, bukan menempatkan Sultan sebagai “alat stempel”, tapi justru untuk memberikan pertimbangan.
“Jika Sultan setuju, maka akan dilaksanakan, tapi jika Sultan tidak setuju, ya tidak dilaksanakan,” katanya.
Keistimewaan berikutnya, menurut Patrialis, Sultan Hamengku Buwono otomatis menempati posisi gubernur utama, sedangkan posisi gubernur dipilih oleh DPRD Provinsi DIY.
Jika Sultan menghendaki mencalonkan diri sebagai calon gubernur, menurut dia, maka kerabat Kesultanan atau kerabat Pakualaman tidak boleh ada yang mencalonkan lagi.
“Kalau hanya ada satu pasangan calon, maka pasangan tersebut langsung ditetapkan DPRD sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur,” katanya.
Menurut Patrialis, dirinya sudah membaca RUU Keistimewaan Yogyakarta secara detil, sehingga sudah memahami isi dan maksudnya.
“Saya sudah membacanya dari ujung rambut sampai ujung kuku RUU itu,” katanya.
Patrialis berharap, anggota DPR RI yang menerima RUU Keistimewaan Yogyakarta bisa memahami seperti dirinya juga.
Soal aspirasi masyarakat Yogyakarta, menurut dia, DPRD Provinsi DIY sudah memutuskan, agar Sultan tetap memimpin Yogyakarta sebagai gubernur.
“Itu urusan DPRD, sedangkan Undang-undang urusan DPR RI. Di DPR RI juga ada anggota yang berasal dari daerah pemilihan Yogyakarta. Mereka juga ikut membahas,” kata Patrialis.

ngayogyakarta hadiningrat

cinta itu misteri

cinta itu adalah sebuah perasaan suka, kagum, rindu, kadang sebel, bahkan lebih dari itu. ada sebuah perasaan yang sulit untuk diungkapkan. perasaan yang tidak ada satu orang pun yang tahu. hanya kita merasakan cinta hidup begitu dalamnya, perasaan yang tak kan mampu kita tuliskan, katakan, maupun menunjukkannya secara nyata. cinta adalah sebuah misteri yang tidak akan diketahui jawabannya, tentang apa itu cinta, bagaimana indahnya, seperti apa bentuknya. semua itu adalah fatamorgana yang tiada dapat terungkap. misteri dalam dunia hati.