Misteri di balik ledakan merapi

Indonesia adalah sebuah negara yang sebagian besar warganya masih mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib. Oleh Auguste Comte kepercayaan terhadap adanya kekuatan adikodrati disebut tahap pemikiran theologies. Meskipun ilmu pengetahuan di Indonesia sudah cukup berkembang, namun tetap saja kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ghaib tidak dapat dihapuskan. Seperti halnya banyak bencana alam yang terjadi dikaitkan dengan misteri-misteri tertentu, yang tentunya menyita banyak perhatian orang.
Contoh saja pada saat gunung Merapi meletus, ada beberapa kepercayaan mistis yang muncul. Dan cukup menghebohkan masyarakat Yogyakarta. Seperti saja adanya kepercayaan bahwa pada hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010, YM Sultan Adji Sulaiman Raja Kutai Kertanegara ke 18 memerintah pada pertengahan abad 18, mengingatkan warga supaya segera melaksanakan perintah untuk ritual labuh ke puncak Gunung Merapi. Pada tanggal 13 Oktober 2010 saat itu status Gunung Merapi sudah berada pada status siaga (satu tingkat di atas status waspada, satu tingkat di bawah status tertinggi awas). Walaupun begitu namun masyarakat yang tinggal di lereng merapi nekat untuk naik ke gunung tersebut, karena sudah merupakan perintah dari para leluhur mereka, mereka percaya tidak ada perintah leluhur yang membuat celaka diri mereka. Mereka juga percaya gaib pun tak pernah bohong.
Masyarakat Yogyakarta beranggapan jikalau ritual labuh (labuhan) atau larung sesaji bukan sekedar latah ikut-ikutan saja. Larung sesaji yang melibatkan ubo rampe dan tata cara hanya soal teknis saja. Lebih dari itu orang harus memahami hakekatnya. Yakni sebagai upaya manusia memahami dan menghormati alam semesta beserta seluruh makhluk penghuninya sebagai sesama ciptaan tuhan. Acara labuh sebagai salah satu wujud adanya kesadaran bersama, yakni tanggungjawab manusia tanpa kecuali untuk selalu hamemayu hayuning bawana. Menjaga dan melestarikan alam semesta serta mengambil manfaat secara proporsional tanpa meninggalkan kerusakan. Kesadaran itu menjadikan kita sebagai sosok manusia yang bijaksana. Berkesadaran spiritual tinggi yang selalu selaras, sinergis dan harmonis dengan kodrat (hukum) alam semesta..

Desa mawa cara, negara mawa tata. Setiap wilayah, atau lingkungan alam, memiliki tata dan cara masing-masing. Beda masyarakat, berbeda pula adat istiadat, tradisi, dan budayanya. Itulah makna kearifan lokal, yakni nilai luhur hasil interaksi manusia dengan lingkungan alamnya yang kemudian melahirkan kearifan dan kebijaksanaan. Sehingga di dalam nilai kearifan lokal (local wisdom) terkandung kesadaran akan jati diri suatu bangsa. “Jati diri” yang meliputi karakter geografi, geologi, dan karakter sosialnya. Bagi siapa yang lebih memahami “jati diri” tersebut, seseorang dapat bersikap lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Alias menjadi manusia yang tunduk patuh, manembah kepada tuhan.